Mengapa Ayam Petelur Komersial Memiliki Jengger Tipe Tunggal?

Jika penulis memberikan pertanyaan seperti ini kepada para pembaca, ada berapa persen pembaca yang mengetahui alasan mengapa Ayam Layer (Ayam Petelur) memiliki jengger (pial) bertipe tunggal? Padahal kita ketahui jika tipe pial tunggal adalah bersifat resesif. Sebelum menjawab dari pertanyaan tersebut, mari kita ingat kembali pelajaran biologi yang pernah kita dapatkan sejak SMP tentang pewarisan sifat jengger pada ayam.

 

Pewarisan sifat tipe jengger

            Bentuk jengger bervariasi dari bentuk rose (R-pp), ercis atau kapri (rrP-) dan bentuk walnut atau arbei (R-P-) (Sidadolog et al, 2009). Pratidina (2019) menambahkan bahwa tipe jengger yang berbeda merupakan hasil terjadinya interaksi gen. Tipe jengger pada ayam dikontrol oleh dua gen dominan: P menghasilkan tipe jengger Pea dan R menghasilkan tipe jengger Rose. Tipe ketiga yaitu tipe jengger Walnut yang dihasilkan dari interaksi kedua gen dominan tersebut, sedangkan tipe jengger Single terbentuk karena adanya alel resesif homozygote (rrpp). Perbedaan tipe jengger tersebut akan menyebabkan penampilan eksterior keturunannya juga bervariasi. Nataamijaya (2005) menyatakan bahwa tipe jengger tunggal atau Single memiliki khas warna merah terang, dengan tekstur bergerigi, berbentuk seperti rambut mohawk atau seperti pisau dan berdiri tegak. Sartika (2007) menambahkan bahwa tipe jengger Single berbentuk gerigi dan terdiri dari tiga baris yang terkadang ketiganya berukuran sama. Rusdin (2007) menyatakan bahwa tipe jengger Rose memiliki bentuk seperti layaknya jengger tigan dengan bagian atas menyerupai bunga mawar. Namun, pada beberapa breed ayam berbentuk meruncing di bagian ujung belakangnya. Nataamijaya (2000) menambahkan bahwa tipe jengger ini memiliki gen dominan. Nataamijaya (2000) menambahkan bahwa tipe jengger ini memiliki gen dominan. Tipe jengger walnut hanya seukuran kacang atau cekung di bagian dekat paruhnya. Letaknya hanya sebatas garis mata ayam jika ditarik garis secara vertikal.

 

Ciri dan karakteristik ayam layer

            Ayam diklasifikasikan berdasarkan garis keturunan tertentu melalui persilangan dari berbagai kelas, bangsa atau varietas sehingga ayam tersebut memiliki bentuk, sifat dan tipe produksi tertentu sesuai dengan tujuan produksi, klasifikasi ayam ini disebut strain (Hardjosubroto, 1994). Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Ayam petelur sudah lama dikenal di masyarakat dan diusahakan sebagai usaha sampingan maupun usaha peternakan. Saat ini ayam menjadi salah satu komoditi ternak yang cukup banyak digemari oleh peternak, terutama ayam petelur. Ayam petelur yang beredar di masyarakat ialah final stock penghasil telur. Final stock ialah ayam hasil persilangan Parent stock yang dipasarkan sebagai ayam niaga (Yuwanta, 2004). Ayam hasil persilangan final stock tidak disarankan untuk dibudidayakan menjadi bibit melainkan untuk produk pedaging.

Ayam petelur terbagi dalam dua tipe yaitu ayam tipe medium dan tipe ringan. Tipe medium umumnya bertelur dengan kerabang coklat sedangkan tipe ringan bertelur dengan kerabang putih (North dan Bell 1990). Ayam petelur ISA Brown termasuk dalam ayam tipe medium. Tipe ayam petelur medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat, tidak terlalu gemuk, kerabang telur berwarna coklat, dan bersifat dwiguna (Rifaid, 2018).

Strain ayam petelur di Indonesia antara lain Isa white, Isa brown dan ayam ras CP 909. Ayam ras Strain CP 909 memiliki bulu berwarna cokelat kemerahan serta termasuk ayam petelur tipe medium. Berat tubuh awal saat produksi sekitar 1,5 kg dengan hen day 5 % dan pada saat akhir produksi 1,9 – 2 kg.

Ayam petelur strain ISA Brown ialah jenis ayam hibrida unggulan hasil persilangan dari ayam jenis Rhode Island Red dan White Leghorns, yang diciptakan di Inggris pada tahun 1978 oleh perusahaan breeder ISA. Ciri khasnya adalah bulu dan telurnya berwarna cokelat, memiliki tipe jengger tunggal atau Single, dan memiliki warna kaki kuning (Hendrix, 2006). Ayam ISA Brown memiliki periode bertelur dari umur 18 sampai 80 minggu, puncak produksi mencapai 95%, daya hidup 93,2%, jumlah telur 351 butir, rata–rata berat telur 63,1 g/butir. Awal bertelur pada umur 18 minggu dengan bobot telur ayam 43 g, Bobot telur ayam ISA Brown mulai meningkat saat memasuki umur 21 minggu, umur 36 minggu, dan relatif stabil diumur 50 minggu (Anonim, 2009). Dari literatur yang lain disebutkan bahwa Isa Brown memiliki catatan performa di periode laying (18 – 90 minggu) yang cukup baik. Persentase livability ayam ini mencapai 94% dengan berat badan 2 kg pada periode laying dan rata-rata konsumsi pakan sebesar 111 g/ekor/hari. Puncak produksi telur Isa Brown mencapai 96% dengan rata-rata berat telur sebesar 62,9 g/butir (Anonim, 2019).

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan di Indonesia adalah ayam ras petelur white leghorn tipe ringan dan umumnya setelah habis masa produktifnya dijadikan ayam potong (Amrullah,2004). Ayam dengan tipe ringan atau yang sering disebut dengan ayam petelur putih merupakan galur asli dari white leghorn dengan ciri-ciri memiliki jengger single (Yuwanta, 2004). Berdasarkan bentuk jengger SCWL (Single Comb White Leghorn) yang memiliki genotip rrpp maka akan lebih mudah mengetahui keturunan yang dihasilkan dari persilangan SCWL, karena keturunannya pasti akan memiliki jengger single akibat dari kombinasi gen resesif. Hal tersebut menjadikan jengger single pada ayam petelur sebagai penentu kualitas dari ayam tersebut. Ayam petelur yang memiliki jengger single, kemungkinan merupakan hasil keturunan dari SCWL yang memiliki perfoma unggul (Stevens, 1991).

Dari penjelasan diatas sudah diketahui mengapa alasan dari ayam layer yang memiliki bentuk jengger single :

1.     Berdasarkan bentuk jengger SCWL (Single Comb White Leghorn) yang memiliki genotip rrpp maka akan lebih mudah mengetahui keturunan yang dihasilkan dari persilangan SCWL, karena keturunannya pasti akan memiliki jengger single akibat dari kombinasi gen resesif.

2.     Ayam petelur yang memiliki jengger single, kemungkinan merupakan hasil keturunan dari SCWL yang memiliki perfoma unggul sesuai dengan hasil perbaikan genetik yang dikerjakan oleh para breeder unggas.

 

Demikianlah alasan yang bisa diberikan dan disajikan oleh BroilerX.com, ikuti website dan social media kami untuk mendapatkan update informasi tentang dunia perunggasan di Dunia.

Share Artikel ini ke:
Galuh Adi Insani

Seorang maniak ilmu perunggasan, yang selalu mengkonsentrasikan setiap riset yang dilakukan berhubungan dengan dunia perunggasan di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.