Apakah Penampilan Ayam Berperan dalam Breeding? (Ayam Layer)

Jika tulisan terdahulu telah kita bahas mengenai Apakah Penampilan Ayam Berperan dalam Breeding? (Ayam Broiler).  Maka kali ini kita bahas tentang ayam layer (ayam petelur), dengan judul Apakah Penampilan Ayam Berperan dalam Breeding? (Ayam Layer).

Perlu kita ketahui bahwa awal mula ayam yang ada di dunia memiliki spesifikasi khusus kemampuan genetiknya yang berbeda-beda, ada yang memiliki produksi telur yang tinggi, dan ada yang produksi telurnya tidak terlalu tinggi. Ada ayam yang memiliki sifat mengeram dan mothering ability (kemampuan induk dalam menjaga dan memelihara anaknya) yang tinggi dan ada juga yang rendah, ada juga ternak yang produksi telurnya rendah, namun memiliki pertumbuhan berat badan yang cepat dan ada yang tidak begitu cepat, ada juga yang memiliki performan bulu tubuh, suara kokok yang indah, sehingga sering digunakan sebagai ternak hias, dan lain-lain. Dari situlah peran seorang breeder dalam perannya untuk dapat “membentuk” bangsa ternak baru yang berfokus pada tujuan pemeliharaan, apakah dijadikan sebagai ternak petelur, ternak pedaging, ternak hias atau justru sebagai ternak dwiguna.

Dari sinilah penulis ingin menjelaskan tentang apa yang dilakukan breeder dalam membentuk ternak dengan tujuan spesifik tersebut. Tentunya pembaca ada beberapa yang belum mengetahui, apakah ternak tersebut muncul dengan sendirinya, ataukah karena pakan yang mengandung hormon tertentu, sehingga ternak menjadi mudah besar dan/atau menjadi lebih banyak menghasilkan produksi telur? Mari kita ulas bersama.

Seorang breeder akan meneliti dan mencari jenis ayam apa saja yang memiliki kemampuan produksi telur yang baik, kemudian dari penelitian tersebut juga didukung dengan ilmu yang lain, diantaranya gen apa saja sih yang berperan dalam proses pembentukan telur? Dari data tersebut dikompilasi dan ditentukan jenis ternak apa saja yang cocok untuk dijadikan ayam petelur, kemudian dari referensi yang ada tersebut, ternak dilakukan perkawinan (alami atau buatan dengan cara Inseminasi Buatan) dan keturunan yang ada ditetaskan kemudian dibesarkan, dan dicatat produksi telurnya, apakah mengalami peningkatan atau justru penurunan, dan dihitung juga presentase kenaikan atau penurunannya, kemudian dilakukan cara yang berulang dengan metode perkawinan yang bisa berbeda-beda dan/atau kombinasi dengan model inbreeding, crossbreeding, outbreeding, cris-cross inheritance dan lain-lain.

Lalu selain produksi yang dilihat, apa lagi yang dilihat oleh breeder tersebut? Jawabannya adalah : diantaranya adalah warna bulu, sebagai penanda dari ternak tersebut ditentukan dan diupayakan seragam, sehingga mempermudah breeder dan konsumen dalam melihat strain ayam tertentu. Bahkan warna bulu juga digunakan oleh breeder untuk menentukan jenis kelamin ternak, karena ayam petelur akan diseleksi yang betina saja yang akan dijual ke konsumen, sehingga jika ditemukan pejantan, sejak DOC sudah ketahuan melalui warna bulu tersebut. Cara ini digunakan dengan model perkawinan cris-cross inheritance (akan dijelaskan di artikel berikutnya model perkawinan tersebut), sehingga breeders tidak perlu memelihara ayamnya yang menetas hanya untuk menentukan jenis kelamin dari ternak tersebut, karena sudah diketahui sejak setelah menetas (DOC).

Selain itu apa lagi yang dilihat? Jawabannya adalah jenggernya. Lalu ada pertanyaan, apa sih hubungan jengger dengan produksi telur? Yuk kita telaah kembali dari pelajaran biologi yang pernah kita dapatkan. Ayam pada prinsipnya memiliki 4 bentuk jengger, yaitu Pea (P_rr), Rose (ppR_), Walnut (P_R_) dan Single (pprr). Dari 4 bentuk jengger ini, manakah yang sifatnya resesif? Jika Anda menjawab single maka jawabannya adalah benar. Yuk kita ingat kembali jika ada perkawinan ayam dengan bentuk jengger yang berbeda dan menghasilkan perbandingan 3:1 atau 9:3:3:1 dan perbandingan yang lainnya, manakah jumlah yang resesif? Jika Anda menjawab 1 maka jawaban Anda adalah benar. Lalu apa hubungannya?
Mari kita lihat kembali, berapa sih produksi ayam layer pada masa puncak produksi? Jawabannya adalah berkisar atau lebih dari 300 butir telur per tahun (365 hari), artinya hampir setiap hari ayam tersebut bertelur, karena proses pembentukan telur mulai dari ovum sampai ditelurkan tersebut membutuhkan waktu 25 jam. Nah jika ayam yang memiliki sifat resesif dan perbandingannya adalah 1 tadi memiliki produksi telur yang luar biasa banyaknya jika dibandingkan dengan ayam yang lain, maka ayam tersebut telah cocok digunakan sebagai ayam strain petelur, itulah alasannya mengapa ayam petelur selalu memiliki jengger single. Jadi jengger juga diperhitungkan oleh breeders ya? Itulah juga mengapa ayam petelur yang baik adalah keturunan dari SCWL (Single Comb White Leghorn) yang tentunya memiliki bentuk jengger yang single.

Lalu apa lagi yang diperhitungkan? Jawabannya adalah sifat mengeram ayam. Coba lihatlah apakah pernah Anda melihat ayam petelur memiliki sifat mengeram? Jika Anda katakan tidak, maka benar sekali, sifat mengeram ini dihilangkan oleh breeders dengan cara melihat faktor hormonal apa yang menyebabkan mengeram, dan ini dipengaruhi oleh gen apa? Kemudian sifat itulah sedikit demi sedikit dihilangkan hingga hilang sama sekali dan ada pada ayam petelur komersial yang Anda dapati saat ini.

Lalu apa lagi yang dilihat? Pernah ga lihat ayam bertelur dan kerabang telurnya merwarna coklat atau putih? Apakah telur dengan kerabang coklat adalah telur ayam layer dan telur dengan kerabang berwarna putih adalah selalu dimiliki ayam kampung? Jawabannya tidak. Ayam layer (ayam petelur) ada juga lho yang berproduksi selalu menghasilkan telur berwarna putih, dan ayam ini lebih banyak diternakkan di luar negri, karena disana konsumen lebih menyukai telur ayam yang memiliki kerabang telur putih, sedangkan di Indonesia kebanyakan konsumen lebih banyak mengyukai telur ayam yang berkerabang telur coklat. Sehingga alasannya adalah karena preferensi konsumen di masing-masing negara berbeda, sehingga arah pengembangan ayam tersebut juga berbeda.

Demikian sedikit pemaparan dari broilerx, jika ada tambahan kedepan akan dituliskan dalam naskah berikutnya.

Jika pembaca tidak ingin ketinggalan adanya tulisan yang baru dari BroilerX, maka silahkan ikuti social media kami yang ada dalam halaman website BroilerX.com.

Jika pembaca memiliki pendapat yang lain tentang apa yang kami sebutkan dalam tulisan ini, silahkan tuliskan dalam kolom komentar. Salam.

Share Artikel ini ke:
Galuh Adi Insani

Seorang maniak ilmu perunggasan, yang selalu mengkonsentrasikan setiap riset yang dilakukan berhubungan dengan dunia perunggasan di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.