Covid19 : Biosekuriti Peternakan, Bahan Kimia Desinfektan yang Lebih Aman dibandingkan Cairan Pembersih

Di saat pandemi Covid19 ini menjadikan kita semua semakin peduli dengan kesehatan dan peduli dalam menjaga diri untuk tetap sehat dan mengupayakan semaksimal mungkin dari kontaminasi bakteri maupun virus. Hal ini yang melatarbelakangi dilakukan desinfektan pada lingkungan sekitar dengan cara melakukan penyemprotan pada daerah-daerah tertentu. Namun ada beberapa hal yang disayangkan adalah : banyak diantara masyarakat yang menggunakan bahan desinfektan yang tidak cocok disemprotkan pada makhluk hidup, dikarenakan menggunakan bahan dengan campuran bahan kimia tertentu yang sebenarnya tidak cocok disemprotkan ke makhluk hidup.

Disini BroilerX akan membahas bahan kimia sebagai bahan biosekuriti yang relative aman jika tersemprot ke tubuh makhluk hidup. Dikarenakan dalam pemeliharaan dan juga perkembangbiakan ternak terkadang tidak berjalan mulus sebagai sebab adanya bibit penyakit yang ada dan dapat menimbulkan penyakit pada unggas.

Bibit penyakit tersebut bisa jadi ditularkan karena kita sebelumnya bersentuhan dengan lingkungan lain yang belum tentu steril dari bibit penyakit, dan jika bibit penyakit tersebut secara tidak sengaja terbawa oleh adanya kendaraan, orang yang terlibat dalam peternakan tersebut atau dari adanya hewan lain yang terlebih dahulu terinfeksi oleh adanya bibit penyakit yang ada.

Dasar inilah yang menjadikan peternak melakukan program desinfektan terhadap kandang, kendaraan, maupun orang-orang yang keluar masuk ke dalam lingkungan peternakan tersebut. Namun apa yang mereka lakukan bukan secara asal-asalan, karena bahan kimia yang digunakan dalam desinfektasi ini juga aman jika terkena oleh manusia.

Dikutip dari website Medion (https://www.medion.co.id/id/poin-penting-desinfeksi-dan-istirahat-kandang/), diungkapkan bahwa : Desinfeksi kandang merupakan salah satu bagian dari tindakan biosekuriti. Desinfeksi kandang yang tidak dilakukan secara sempurna dan “seadanya” menyebabkan tujuan semula untuk mengurangi bibit penyakit menjadi sia-sia. Dalam kaitannya dengan awal persiapan kandang, desinfeksi kandang kosong harus dilakukan dengan optimal, dimana seluruh bagian kandang harus basah atau terkena cairan desinfektan.

Perlu kita ketahui bersama bahwa desinfektan hanya akan bekerja jika kontak langsung dengan bibit penyakit. Oleh karena itu, penyemprotan desinfektan yang pertama kali sebaiknya menggunakan jetspray (penyemprotan air bertekanan). Dengan demikian, cairan desinfektan bisa masuk ke pori-pori dinding maupun lantai kandang.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan penggunaan desinfektan, yaitu:

a) Jenis bibit penyakit

Tidak semua bibit penyakit bisa dibasmi oleh desinfektan. Contohnya virus yang tidak memiliki amplop (non enveloped), seperti virus Gumboro, EDS dan reovirus, tidak bisa dibasmi oleh desinfektan dari golongan amonium kuartener (QUATS) karena mekanisme kerja desinfektan tersebut ialah merusak dinding sel bibit penyakit. Sedangkan virus non enveloped tidak memiliki dinding sel.

b) Materi organik

Materi organik, seperti sisa feses dan lendir, bisa menurunkan efektivitas desinfektan karena materi organik akan menghalangi kontak antara desinfektan dan bibit penyakit. Disinilah pentingnya melakukan pembersihan kandang secara optimal dengan menghilangkan semua bahan organik yang ada. Caranya dengan menyikat semua bagian kandang meliputi sela-sela dinding atau lantai kandang, kemudian semprot dengan air dan dikeringkan. Setelah itu, desinfeksi kandang baru bisa dilakukan.

c) pH

Nilai pH pada air yang digunakan untuk melarutkan desinfektan juga mempengaruhi daya kerja desinfektan. Contohnya desinfektan golongan oxidizing agent akan bekerja optimal pada pH asam sampai netral (pH 4-7), sedangkan golongan QUATS dan aldehyde hanya akan berfungsi optimal pada pH basa-netral. Melihat karakteristik tersebut, maka sebaiknya kita menggunakan air dengan pH netral sehingga semua jenis desinfektan bisa bekerja optimal.

d) Tingkat kesadahan

Tingkat kesadahan ditentukan dari kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ dalam air. Semakin tinggi kandungan ion-ion tersebut, akan semakin tinggi pula tingkat kesadahan air. Sama halnya pada obat, pelarutan desinfektan dalam air dengan tingkat kesadahan yang tinggi akan mengakibatkan potensi desinfektan menurun, terutama desinfektan golongan QUATS dan oxidizing agent. Guna memastikan tingkat kesadahan air sebaiknya lakukan pengujian di laboratorium, seperti Labkesda, PDAM maupun Medion yang juga menyediakan fasilitas uji tersebut.

e) Waktu kontak

Waktu kontak berkaitan dengan cepat atau lambatnya daya kerja desinfektan dalam mengeleminasi bibit penyakit. Sesaat setelah diaplikasikan, desinfektan mulai mengalami degradasi sehingga efektivitasnya berangsur-angsur menurun. Alhasil, semakin singkat waktu kontak yang dibutuhkan untuk membasmi mikroba maka semakin efisien desinfektan tersebut. Desinfektan golongan QUATS dan oxidizing agent diketahui mempunyai waktu kontak relatif singkat (10-30 menit) dibandingkan fenol sehingga memiliki daya bunuh lebih cepat.

f) Dosis

Dosis desinfektan hendaknya disesuaikan dengan aturan pakai yang tercantum pada etiket atau kemasan produk. Khusus untuk desinfeksi kandang, kebutuhan desinfektan tiap m2 adalah 300 ml. Sebelumnya kita hitung terlebih dahulu luas permukaan kandang yang akan disemprot (meliputi lantai, dinding dan langit-langit) dengan rumus: 2,5 x luas lantai kandang.

 

Selanjutnya kita hitung kebutuhan desinfektan dengan rumus = luas permukaan kandang yang akan disemprot x kebutuhan desinfektan tiap m2 x dosis desinfektan.

Cairan desinfektan yang digunakan dalam peternakan sesuai dengan rekomendasi dari Medion adalah menggunakan Medisep dengan dosis 15 ml/10 liter air. Maka jumlah desinfektan yang diperlukan:

= 2.500 m2 x 300 ml/m2 x 15 ml/10000 ml

= 1125 ml atau 1,125 liter

Jadi, kebutuhan Medisep untuk semprot kandang dengan luas 1000 m2 adalah 1,125 liter.

Bahan desinfektan ini jauh lebih aman digunakan bila dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia campuran sendiri dan pengaplikasiannya adalah disemprotkan ke tubuh makhluk hidup.

Share Artikel ini ke:
Galuh Adi Insani

Seorang maniak ilmu perunggasan, yang selalu mengkonsentrasikan setiap riset yang dilakukan berhubungan dengan dunia perunggasan di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.