Asal-Usul Sejarah Industri Ayam Broiler

Apakah dari pembaca blog BroilerX tau tentang ayam broiler? atau bahkan sudah berkecimpung di dunia ayam broiler? Apakah teman pembaca semuanya sudah tau asal usul sejarah tentang ayam broiler? Mari kita cari tau bersama.

Ayam broiler atau ayam ras merupakan komoditas unggas hasil dari proses pemuliaan ternak, yaitu dengan pengembangan melalui perbaikan performans secara genetik melalui hasil perkawinan silang, seleksi secara ketat dan dilakukan dengan sistem berkelanjutan sehingga didapatkan genetik dengan performans pertumbuhan yang baik. Mengapa disebut broiler? Hal ini dikarenakan pertumbuhan ayam broiler yang sangat cepat dibandingkan dengan ayam lain. Ayam broiler merupakan ternak yang paling ekonomis dibandingkan dengan ternak yang lain dengan kecepatan pertambahan produksi daging dalam yaktu yang relatif cepat dan singkat sekitar 4-5 minggu produksi sudah dapat dipanen, dipasarkan, dan dikonsumsi dengan berat badan berkisar antara 1,5 hingga 2 kg bobot hidup. Ayam broiler dengan kata lain dapat dikategorikan sebagai jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki produktivitas tinggi dalam produksi daging ayam. Keunggulan ayam broiler antara lain pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak.

Pada awal mulanya pada tahun 1916, broiler merupakan ayam jantan muda (cockerel) yang diafkir dari breeding farm peternakan. Broiler generasi pertama berhasil dihasilkan dari hasil persilangan pejantan bangsa Cornish (asal inggris yang terkenal dengan karakteristik tubuh besar, persentase otot dada yang tinggi) dengan ayam Plymouth Rocks putih betina (popular di Amerika Serikat dimana ayam ini memiliki karakteristik tulang besar dan memiliki tujuan ganda yakni menghasilkan daging dan telur yang baik). Hasil persilangan ayam ini kemudian diperkenalkan pada tahun 1930-an dan popular pada 1960-an. Seleksi genetik, peningkatan nutrisi, ilmu kesehatan hewan, dan kontrol lingkungan mulai diperhatikan pada tahun 1940-an untuk meningkatkan performans broiler.

(Sumber : majalahinfovet.com)                                                                   (Sumber : funpoultry.com)

Perkembangan industri ayam broiler didunia

Tahun 1945, pengusaha Amerika pemilik Atlantik & Pacific Tea Company menyelenggarakan kontes bertema “Chicken of Tomorrow”. Babak kualifikasi berlangsung pada tahun 1946 – 1947, sedangkan final pada tahun 1948. Laju pertumbuhan, konversi ransum, produksi daging dada dan paha. Pembibit yang unggul dalam kontes tersebut antara lain Peterson, Vantress, Cobb, Hubbard, Pilch, dan Arbor Acres. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengembangkan sistem penilaian karkas (carcass grading) broiler pada tahun 1949 dengan tujuan untuk membantu konsumen mengetahui kualitas karkas dan menetapkan standar yang harus dicapai peternak. Produksi ayam broiler modern semakin berkembang pada tahun 1970an, penelitian mulai banyak dilakukan, banyak penemuan baru mengenai nutrisi, program penanganan penyakit dan teknologi. Kontributor yang penting pada era tersebut adalah mekanisasi processing dan teknologi otomatis.

Peningkatan permintaan terhadap daging ayam broiler sangat pesat pada tahun 1980-an, daging ayam dianggap sebagai sumber protein hewani yang menyehatkan dan murah jika dibandingkan dengan daging komoditas ternak lainnya. Konsumen memilih ayam yang dijual dalam bentuk potongan (cut up chicken) karena lebih praktis. Daging ayam beku siap olah mulai populer pada era ini. Berbagai restoran makanan cepat saji (fast food) berbahan baku ayam mulai berkembang, berkompetisi dengan restoran ternama seperti Mc Donald’s dan KFC. Konsumsi daging ayam di Amerika Serikat pada tahun 1992 melebihi daging sapi.

Sistem seleksi di tingkat broiler pembibit juga mulai berkembang pada tahun 1980-an s.d. 1990-an. Teori indeks seleksi berdasarkan performans keluarga yang dilakukan pada tahun 1970-an dikembangkan menjadi metode seleksi dengan BLUP (best linear unbiased prediction) berdasarkan performans individu dan keluarga sehingga dapat diketahui bagaimana suatu sifat berkaitan satu sama lain. Seleksi yang dilakukan terus menerus diikuti dengan inovasi untuk menggabungkan siat-sifat unggul dan mengeliminasi sifat-sifat yang kurang menguntungkan. Pada tahun 2000an hanya ada tiga perusahaan pembibit GPS (Grand Parent Stock) yang tersisa, yaitu Cobb-Vantress (mencakup brand Cobb, Avian, Sasso, dan Hybro), Aviagen (mencakup brand Ross, Arbor Acres, Lohmann, Indian River, dan Peterson), serta Groupe Grimaud (mencakup brand Hubbard dan Grimaud Frere).

(Sumber : aviagen.com)

Permintaan pasar internasional pada tahun 1990-an s.d. 2000-an tidak hanya mencakup daging dada, tetapi juga paha (leg quarters) dan cakar, terutama di Asia. Sebanyak 20% daging ayam dari Amerika Serikat diekspor ke berbagai negara. Konsep HACCP (hazard snalysis and vritical control points) mulai dikembangkan sejak 26 Januari 1998 untuk mengatur mengenai keamanan pangan dari aspek produksi, restoran, dan industri penyedia pangan (US Poultry and Egg Association, 2009). Industri perunggasan pada tahun 2000-an terfokus pada empat hal, yaitu apakah aman bagi kesehatan manusia, apakah ternak terpenuhi kesejahteraannya, apakah mempengaruhi finansial konsumen, dan apakah menjamin keberlanjutan jangka panjang bagi industri.

 

Perkembangan industri ayam broiler di Indonesia

Perkembangan ayam broiler di Indonesia dikategorikan dalam tiga periode, yaitu:

  • Periode perintisan (1953-1960)

Berbagai jenis ayam diimpor untuk memenuhi pasar lokal, di antara jenis ayam yang diimpor adalah White Leghorn (WL), Island Red (IR), New Hampshire (NHS) dan Australop. Impor ayam tersebut dilakukan oleh GAPUSI (Gabungan Penggemar Unggas Indonesia). Aksi yang dilakukan adalah melakukan penyilangan antara ayam impor tersebut dengan jenis ayam kampung. Namun saat itu, tujuan penyilangan iu hanya sebagai kesenangan dan hobi, bukan untuk komersial.

  • Periode pengembangan (1961-1970)

Impor bibit ayam dipopulerkan pada tahun 1967. Saat itu, Direktoran Jendral Peternakan dan Kehewanan saat itu menyusun program Bimas Ayam dengan tujuan memasyarakatkan ayam ras kepada peternak unggas. Daging semakin sulit didapatkan saat itu sehingga diharapkan program ini dapat meningkatkan konsumsi protein hewani. Apalagi konsumsi perkapita masyarakat terhadap protein hewani sangat rendah, 3,5 gram/kapita/hari.

  • Periode pertumbuhan (1971-1980)

Bimas ayam broiler tahun 1978 merupakan jawaban atas menurunnya populasi sapi saat itu. Sejalan dengan itu, permintaan penduduk terhadap ayam broiler meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Namun, pada tahun 1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi sehingga pemilikan ayam di Indonesia ditingkat peternak menurun hingga lebih dari 50%. Pada tahun 1999 usaha ayam broiler dan layer mulai mengalami kebangkitan. Pada 1980-an, biasanya menghasilkan 2 kg dalam 70 hari. Pada tahun 2018 hingga kini hanya dibutuhkan 29 hari untuk menghasilkan seekor burung dengan bobot yang sama.

Tertarik mengembangkan industri ayam broiler? silahkan kunjungi kami untuk mendapatkan pengalaman budidaya yang lebih mudah dan menguntungkan.

Share Artikel ini ke:
Muchamad Aldi Rohmawan

Seorang pembelajar peternakan yang bebas dan merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.